Pages

Jumat, 20 Juli 2018

Metode-Metode Pelatihan Menurut Beberapa Ahli


METODE-METODE PELATIHAN MENURUT BEBERAPA AHLI




A.    METODE PELATIHAN CHERRINGTON
Menurut Cherrington (1995), dikatakan bahwa metode dalam pelatihan dibagi menjadi dua yaitu on the job traning dan off the job training. On the joh training lebih banyak digunakan dibandingkan dengan off the job training. Hal ini disebabkan karena metode on the job training lebih berfokus pada peningkatan produktivitas secara cepat. Sedangkan metode off the job training lebih cenderung berfokus pada perkembangan dan pendidikan jangka panjang.
1.      On The Job Training
On The Job Training dibagi menjadi 6 macam yaitu:
a.       Job instruction training.
Pelatihan ini memerlukan analisa kinerja pekerjaan secara teliti. Pelatihan ini dimulai dengan penjelasan awal tentang tujuan pekerjaan, dan menunjukkan langkah - langkah pelaksanan pekerjaan.
b.      Apprenticeship.
Pelatihan ini mengarah pada proses penerimaan karyawan baru, yang bekerja bersama dan dibawah bimbingan praktisi yang ahli untuk beberapa waktu tertentu. Keefektifan pelatihan ini tergantung pada kemampuan praktisi yang ahli dalam mengawasi proses pelatihan.
c.       Internship dan assistantships.
Pelatihan ini hampir sama dengan pelatihan apprenticeship hanya saja pelatihan ini mengarah pada kekosongan pekerjaan yang menuntut pendidikan formal yang lebih tinggi. Contoh internship training adalah cooperalive education project, maksudnya adalah pelatihan bagi pelajar yang menerima pendidikan 21 formal di sekolah yang bekerja di suatu perusahan dan diperlakukan sama seperti karyawan dalam perusahaan tetapi tetap dibawah pengawasan praktisi yang ahli.

d.      Job rotation dan transfer.
Pelatihan ini adalah proses belajar yang biasanya untuk mengisi kekosongan dalam manajemen dan teknikal. Dalam pelatihan ini terdapat 2 kerugian yaitu: yang pertama, peserta pelatihan hanya merasa dipekerjakan sementara dan tidak mempunyai komitmen untuk terlibat dalam pekerjaan dengan sungguh - sungguh. Dan yang kedua, banyak waktu yang terbuang untuk memberi orientasi pada perserta terhadap kondisi pekerjaan yang baru. Pelatihan ini juga mempunyai keuntungan yaitu: jika pelatihan ini diberikan oleh manajer yang ahli maka peserta akan memperoleh tambahan pengetahuan mengenai pelaksanaan dan praktek dalam pekerjaan.
e.       Junior boards dan committee assignments.
Ini merupakan alternatif pelatihan dengan memindahkan perserta pelatihan kedalam komite untuk bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan administrasi. Dan juga menempatkan peserta dalam anggota eksekutif agar memperoleh kesempatan dalam berinteraksi dengan eksekutif yang lain.
f.       Couching dan counseling.
Pelatihan ini merupakan aktifitas yang mengharapkan timbal balik dalam penampilan kerja, dukungan dari pelatih, dan penjelasan secara perlahan bagaimana melakukan pekerjaan secara tepat. 

2.      Off the job training
Off the job training dibagi menjadi 13 macam yaitu:
a.       Vestibule training.
Pelatihan dimana dilakukan ditempat tersendiri yang dikondisikan seperti tempat aslinya. Pelatihan ini digunakan untuk mengajarkan keahlian kerja yang khusus.
b.      Lecture.
Pelatihan ini merupakan pelatihan dimana menyampaikan berbagai macam informasi kepada sejumlah besar orang pada waktu bersamaan.
c.       Independent self-study.
Pelatihan yang mengharapkan peserta untuk melatih diri sendiri misalnya dengan membaca buku, majalah profesional, mengambil kursus pada universitas lokal dan mengikuti pertemuan profesional.
d.      Visual presentations.
Pelatihan ini dengan mengunakan televisi, film, video, atau persentasi dengan menggunakan slide.
e.       Conferences dan discussion.
Pelatihan ini biasa digunakan untuk pelatihan pengambilan keputusan dimana peserta dapat belajar satu dengan yang Iainnya.
f.       Teleconferencing.
Pelatihan dengan menggunakan satelit, dimana pelatih dan perseta dimungkinkan untuk berada di tempat yang berbeda.
g.      Case studies.
Pelatihan yang digunakan dalam kelas bisnis, dimana peserta dituntut untuk menemukan prinsip - prinsip dasar dengan menganalisa masalah yang ada.
h.      Role playing.
Pelatihan dimana peserta dikondisikan pada suatu permasalahan tertentu, peserta harus dapat menyelesaikan permasalahan dimana peserta seolah - olah terlibat langsung.
i.        Simulation.
Pelatihan yang menciptakan kondisi belajar yang sangat sesuai atau mirip dengan kondisi pekerjaan, pelatihan ini digunakan untuk belajar secara teknikal dan skill.
j.        Programmed instruction.
Pelatihan ini merupakan aplikasi prinsip dalam kondisi operasional, biasanya menggunakan komputer.
k.      Computer - based training.
Pelatihan ini merupakan program pelatihan yang diharapkan mempunyai hubungan interaktif antara komputer dan peserta, dimana peserta diminta untuk merespon secara langsung selama proses belajar.
l.        Laboratory training.
Pelatihan ini terdiri dari kelompok - kelompok diskusi yang tak beraturan dimana peserta diminta untuk mengungkapkan perasaan mereka terhadap satu dengan yang lain. Tujuan pelatihan ini adalah menciptakan kewaspadaan dan 24 meningkatkan sensitivitas terhadap perilaku dan perasaan orang lain maupun dalam kelompok.
m.    Programmed group exercise.
Pelatihan yang melibatkan peserta untuk bekerja sama dalam memecahkan suatu permasalahan

B.     METODE PELATIHAN MILKOVICH & BOUDREAU
Metode pelatihan menurut Milkovich & Boudreau (1997) adalah On-The-Job Training, Apprenticeships, Lecture, Audio-Visual Techniques, Programmed Intruction, Simulations, dan University, College, or Vocational School Education. Adapun akan dijelaskan secara rinci sebagai berikut ini:
1.        On the job training
Pelatihan yang dilakukan di tempat kerja, dalam hal ini peserta pelatihan  memperhatikan dan mengawasi orang yang bekerja, kemudian mempraktekannya atau peserta langsung membantu pekerja senior dan bersama-sama mengerjakan pekerjaannya.
2.        Apprenticeship
Magang (Apprenticeship) mengkombinasikan on the job training dan off the job traing. Dalam hal ini dilakukan dengan mendidik atau melatih peserta dan kemudian mempraktekan pengetahuan atau keterampilan pekerjaan yang sebenarnya, dengan mengikuti pekerja yang telah senior.
3.        Lecture
Kuliah (Lecture) dilakukan dengan memberi informasi tentang pengetahuan atau keterampilan yang dipelajari atau presentasi materi kepada peserta. Kelebihan metode ini adalah biaya murah, efektif, dan efisien dalam menanamkan pengetahuan dengan cepat, sedang kelemahannya komunikasi yang dilakukan hanya satu arah dan kurang adanya umpan balik dari peserta.
4.        Audio Visual Techniques
Bentuk pelatihan yang dilakukan dengan film, rekaman, dan slide, yang dapat digunakan tersendiri atau dipadukan dengan metode lain.
5.        Programmed Instruction
Dilakukan dengan instruksi yang diberikan kepada peserta sejumlah tugas, melakukan evaluasi, dan memberikan feedback sesuai dengan program pelatihan. Program ini dapat disampaikan melalui buku, video, dan komputer.
6.        Computer-Assisted Instruction
Pelatihan yang dilakukan dengan menggunakan komputer untuk mempresentasikan materi, menilai tanggapan peserta, memberikan feedback, dan memutuskan apa yang akan disampaikan pada waktu yang akan datang.
7.        Simulations
Program ini berupaya untuk menciptakan suatu kondisi yang menyerupai kondisi nyata sehingga peserta dapat dengan mudah untuk memerapkan pengetahuan atau keterampilan di tempat kerja. Simulasi ini dapat dilakukan dengan simulasi fisik, business game, role playing, dan behavior modeling.
8.        University, Collage, or Vocational School Education
Program pelatihan dengan mengikutsertakan peserta pada program pendidikan yang formal di universitas, sekolah, atau lembaga pendidikan.

C.    METODE PELATIHAN BERNANDIN DAN RUSSELL
Bernandin dan Russell (dalam Gomes 2003) membagi metode
pelatihan menjadi dua kategori yaitu:
1)      Informational methods
Biasanya menggunakan pendekatan satu arah, melalui mana informasi-informasi disampaikan kepada para peserta oleh para pelatih. Metode jenis ini dipakai untuk mengajarkan hal-hal faktual, keterampilan, atau sikap tertentu. Para peserta biasanya tidak diberi kesempatan untuk mempraktekkan atau untuk melibatkan diri dalam hal-hal yang diajarkan selama pelatihan.
2)      Experential methods
Metode yang mengutamakan komunikasi yang luwes, fleksibel, dan lebih dinamis, baik dengan instruktur, dengan sesame peserta, dan langsung mempergunakan alat-alat yang tersedia. Metode ini biasanya dipergunakan untuk mengajarkan pengetahuan dan keterampilan, serta kemampuan-kemampuan baik yang bersifat software maupun yang hardware (fisik).





DAFTAR PUSTAKA


Cherrington, David J. (1995). The Management of Human Resources (4th. Edition). New Jersey: Prentice Hall Inc.
Gomes, Faustino Cardoso. (2003). Manajemen Sumber Daya Manusia. Penerbit Andi,. Yogyakarta.
Milkovich, George T., John W. Boudreau. (1997). Human Resource Management. USA : Irwin

0 komentar:

Posting Komentar